Header Ads

Breaking News
recent

Cerita tentang Hidup dan Kehidupan Desa

Sumber Foto: http://iwankristiana-photoart.blogspot.com/2012/02/potret-kehidupan-di-desa.html

Hari ini aku begitu khawatir tentang bagaimana hidup dan kehidupan di Desa. Desa tidak menjanjikan apapun bagi siapapun. Mereka yang lebih kaya, rejekinya tidak banyak mereka dapatkan di desa. Kami menyebut mereka sebagai orang desa yang rejekinya kota. Orang-orang semacam ini sangat jarang kita temui di desa. Selain itu, ada juga orang-orang yang mampu membangun istananya di desa namun raganya bahkan jiwanya tidak berada di desa. Kami tidak menyebutnya sebagai orang desa, tetapi kami menyebutnya sebagai seorang perantau yang berhasil. Turut menuai rejeki di kota, namun dibawa pulang ke desa untuk bekal di hari tua jika kelak tidak lagi mampu bertahan di perantauan.

Orang-orang perantau yang berhasil ini merajut asa di tanah tetangga sejak usia muda. Saat perbekalan ilmu dan skill dirasa cukup, mereka akan memperdagangkan ilmunya di tanah rantanu. Mereka mencari penghidupan baru menuju kemandiria (kemandirian yang berarti lepas dari orang tua). Di desa akan banyak kita jumpai remaja-remaja yang beranjak pergi meninggalkan desa demi mencari dan (jika memungkinkan) mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar ia mampu membeli makan untuk dirinya sendiri, membeli sandang dengan hasil keringatnya sendiri, membangun papan dengan batu dan kayu yang ia beli dengan uangnya sendiri. 

Bagaimana seorang muda mampu bertahan diri di desa jikalau ternyata desa justru tidak menjanjikan apapun.Ketahanan seorang pemuda di desa tidak pernah berangsur lama selain ada sumber penghidupan yang benar-benar dapat mencukupinya, mencukupi orang tua dan adik-adiknya serta mencukupi keluarganya sendiri kelak. Kehidupan seorang pemuda memang tidak pernah dirasa asik di desa. Para sarjana muda yang telah selesai dengan pendidikannya, beberapa dari mereka hanya pulang untuk sejenak menengok kampung dan mencari penghidupan lain di kota karena ijazah yang telah ia usahakan selama empat tahun di tanah rantau ternyata juga tidak mampu mendatangkan kepingan-kepingan rupiah jika ia hanya berdiam diri di desa. Beberapa dari mereka (khususnya sarjana-sarjana muda perempuan), mereka pulang untuk minta dikawinkan. Selama empat tahun menjalani perkuliahan, ia tidak hanya mengemban misi untuk menjadi sarjana tetapi ia juga sedang mengemban misi untuk segera menjadi istri setelah lulus nanti.

Hadirnya sarjana perempuan yang pulang untuk kawin ini terkadang tidak menambah solusi baru bagi desa, namun justru nmenambah masalah baru. Pertama, bertambahnya satu lagi sarjana pengangguran yang masa pengabdiannya sebagai istri (atau ibu kelak) dihabiskan sembari menyodorkan ijazah ke supermarket atau ke pabrik-pabrik terdekat. Kedua, sarjana perempuan yang sedang manyandang peran sebagai istri dan juga calon ibu serta telah sibuk mencari pekerjaan ini tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai ibu, akibat disibukkan oleh pencarian nafkah (dalam rangka membantu suami katanya) perannya dalam mendidik anak diserahkan penuh kepada orang lain yang tidak mempunyai hubungan apapun dengan si anak. Orang lain ini diberi gelar sebagai guru. Dan berikut masalah-masalah lain yang menjadi akibat dari misi ganda sejak di bangku kuliah tadi.

Siklus hidup semacam ini jika dibiarkan terus menerus, maka kita tinggal menghitung saja akan ada berapa ribu lagi pengagguran yang lahir di setiap tahunnya. Akan ada berapa juta anak lagi yang tidak dididik sendiri oleh orangtuanya. akan ada berapa milyar lagi uang yang dikucurkan oleh negara untuk menanggung dan mensejahterakan jutaan keluarga baru.

Menjadi mandiri memang harus dipikirkan sejak seseorang beranjak dewasa, sehingga seseorang bisa mendiri secara dewasa pula. Mandiri secara dewasa berarti tidak hanya mandiri hari ini saja, akan tetapi mandiri secara terus menerus serta tidak menimbulkan ketidakmandirian yang lain.

2 komentar:

  1. Tetap semangat untuk menjadi perempuan zaman now gaes

    BalasHapus
  2. membacanya jadi terinspirasi kalo yg terdekat juga bisa menjadi bahan membaca (situasi) dan menulis. keep inspiring ning

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.